Cara Mendongeng Paling Sederhana

A house without books is like a room without windows ~ Horace Mann

Berdasarkan World’s Most Literate Nations Ranked tahun 2016, Indonesia menempati peringkat 60 dari 62 negara. Meski hanya terdiri dari lima kategori penilaian, bisa disimpulkan bahwa tingkat literasi Indonesia masih rendah.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam dunia keaksaraan. Bagaimana mengembangkan keterampilan literasi, minimal tertarik akan hal baca-membaca. Jika ditilik lebih lanjut, rentang buta aksara adalah usia 15-59 tahun. Sangat disayangkan jika hal ini masih terjadi pada anak yang masih ditangguhkan dalam program wajib belajar 9 tahun. Nah kalau kamu gimana? Para ibu, calon ibu, dan singleLillah, sudah berapa banyak halaman buku yang dibaca setiap harinya?

Buku adalah jendela ilmu, pepatah mengatakan. Akan tetapi, bagaimana ilmu bisa diraih jika buku saja terasa berat untuk dibuka bahkan sulit untuk dibaca? Padahal di zaman teknologi canggih ini, semua informasi sudah tercantum pada tulisan, tinggal kita saja yang memilah dan memilih informasi mana yang akurat dan dapat dipercaya. 

Meski buta aksara memiliki presentasi kecil pada kelompok usia sekolah, penanaman akan pentingnya literasi harus dilakukan sejak dini. Salah satunya adalah mengenalkan dan membiasakan anak untuk membaca. Seperti kata Teh Niakuri, “sangat penting mengawali masa pertumbuhan anak-anak kita dengan mengisi golden age nya dengan hal-hal positif; Hafalan qur’an, doa-doa, adab yang baik, iman kepada Allah dan rasulnya semua harus ditanamkan sejak dini.” 

Kita lima tahun yang akan datang adalah buku yang kita baca hari ini. Kebayang kan kalau anak-anak kita dibacakan buku yang isinya value positif dan akan mengakar dan menghujam hingga dewasa?

Masa golden age adalah masa emas anak-anak pada awal kehidupannya yaitu usia 0-5 tahun. Pada masa ini, perkembangan otak anak begitu cepat, bagaikan spons, ia menyerap apapun yang diajarkan oleh orangtua atau orang sekitarnya. Pembentukan karakter dan pengoptimalan 8 kecerdasan anak (multiply intelligence) juga mudah untuk dikenali, dibentuk, dan diasah pada masa ini. “Jadi sayang banget kalau bayi kita, anak kita belum diperkenalkan dengan buku”, paparnya ketika di awal kelas sharing session RBPS IP Bandung, “karena yang akan terstimulasi sangat banyaaak”, serunya menyemangati.

Tapi yaa, buku itu kan datar gitu yaa, memang bisa bikin menarik anak-anak? Jawabannya bisa dong! Kita bisa siasati dengan memilih buku yang cocok untuk anak kita. Sekarang sudah tersedia berbagai bentuk buku yang menarik minat anak-anak, misalnya boardbook, lift and flap, wipe and clean, pop up, dan lain sebagainya.

Jenis membaca buku pun beragam, yaitu membaca nyaring (read a loud), ekspresif/bebas tidak sesuai kata-kata dalam buku, maupun mendongeng. Kali ini kita membahas dongeng. Kenapa? Karena mendongeng itu asyik, mudah, dan menyenangkan. Manfaatnya juga banyak, salah satunya adalah menumbuhkan minat baca dan mengoptimalkan seluruh indera anak. Naah mendongeng atau bercerita tanpa buku jauh lebih asyik karena kita bisa eksplor sendiri ceritanya. Sudah pernah mencobanya?

Kalau belum pernah mencoba, don’t worry, storyteller kita membagi tiga jurus andalannya ketika akan mendongeng. 

Pertama, penguasaan cerita. Bagaimana rasanya membacakan buku yang belum pernah dibaca? Pasti akan timbul banyak noise dan sibuk sendiri membaca buku sehingga berkurang perhatiannya pada anak. Jadi, usahakan kita benar-benar paham akan alur cerita sebelum show yaa! 

Kedua, ekspresi dan gestur. Anak-anak senang sekali jika disuguhkan ekspresi dan gestur yang berbeda sesuai dengan kondisi tokoh cerita.

Ketiga, pilihlah media dongeng yang sesuai dan menarik perhatian anak, misalnya boneka tangan, boneka jemari, kostum, alat kreatif penunjang, buku berwarna, maupun gambar sebagai background panggung.

Lalu bagaimana yaa kalau anak-anak belum ON ketika kita akan mulai mendongeng? Suka  gempeur apalagi mendongeng massal, kan banyak tuh audience nya, “ini biasanya di pembukaan, saya ngasih tebak tebakan tentang binatang biar anak-anak semangat dulu, kenal dulu ma kita. kalo dah akrab, kesannya dah asyik dan menyenangkan anak-anak akan mudah diarahkan”, ujar Teh Nia memberikan tips.

Waahh tips jitu dan harus banget nih dipraktekkan, minimal dengan anak sendiri, eh anak tetangga juga boleh deeh bagi singleLillah. Terakhir, Teh Nia juga terus mengajak agar para orangtua khususnya warga RBPS agar semangat dalam membersamai anak membaca buku “anak akan cinta baca jika dia tau bahwa buku itu asyik, buku itu menyenangkan. Oleh karena itu, yuk bacakan buku, ceritakan isinya agar anak bisa berimajinasi, merasakan dan mendapat hiburan yang pastinya kondisi alfa yang menyenangkan akan membuat anak mudah untuk dididik”. Semangat yaa, Tehs!

Kontributor: Diah Adni

Sumber : Sharing session bersama Teh Niakuri pada 2 Oktober 2019 di WAG RB Public Speaking IP Bandung

Hits: 0

Related posts

Leave a Comment