Mengapa Kau Tidak Mau Makan, Sayang?

“Oh umurnya setahun? Kecil ya.”

Jleb. Itu kalimat yang seringkali dia dengar, tapi tetap terasa perih di hati. Iya, dia tahu, anak lelaki kesayangannya itu bertubuh mungil, jauh lebih kecil apabila dibandingkan dengan anak lain seusianya.

Suami, Orangtua, Mertua, Ipar, dan bahkan tetangga, semua kompak berkomentar yang sama. Anaknya kurus, sepertinya kurang nutrisi, tidak seperti anak-anak lain yang bertubuh gempal, sehat, dan terlihat menggemaskan.

Banyak saran yang dia terima; tentang bagaimana cara pemberian MPASI yang baik bagi anak, nutrisi apa yang tepat bagi tumbuh kembang optimal anak, ataupun rekomendasi nama dokter spesialis gizi anak yang kompeten.

Sesungguhnya jika orang-orang yang berkomentar miring itu tahu, bahwa dia sudah mengupayakan hampir segalanya agar tubuh anaknya menggendut.

Dia datangi dokter anak subspesialis gizi yang paling sohor di kotanya, rela mengantre berjam-jam agar bisa mendapatkan saran yang tepat dari ahlinya demi pertumbuhan anaknya. Dia praktekan semua saran yang diterimanya,

“Adeknya makan jangan digendong ya, duduk di high chair ya Bu.”

“Makan tanpa distraksi ya Bu. No gadget, no mainan, apalagi diajak makan sambil digendong keliling komplek is a big NO ya.”

“Makan sesuai jadwal ya Bu. Kalau sudah menjelang jam makan, jangan dikasih snack atau ASI ya. Dijeda setidaknya 2 jam sebelum makan, jangan makan apa-apa. Supaya adek tahu sinyal lapar.”

“Kalau setelah 30 menit, makanannya masih belum habis, sudahi saja ya Bu. Tidak perlu dilanjutkan makannya. Jika setelah makan, adeknya minta ASI atau snack, jangan dikasih ya.”

Dia manut, dia ikuti semua saran itu.

Selain itu, dia pun beli berbagai macam buku resep MPASI. Ia praktekan satu demi satu resep di dalam buku-buku itu. Ia pastikan hanya bahan premium yang ia pergunakan. Setelah matang, dicicipnya sedikit dan terasa nikmat di lidahnya. Namun, si Anak kesayangan tetap mogok makan.

Okelah, tak mengapa“, batinnya. Mungkin si Anak ingin makan MPASI pabrikan. Segera ia sediakan menu itu. Tapi entah kenapa, lagi-lagi anak satu tahun itu menolaknya. Pun ketika dia mencoba membeli MPASI yang dijual oleh catering atau yang banyak dijajakan di pinggir-pinggir jalan. Semua tak ada yang berhasil masuk ke mulut kecilnya.

Kemudian ketika dia mulai lelah, tak berdaya dan mulai bercerita kepada orang lain tentang bebannya, mereka hanya mengatakan sepertinya apa yang dilakukannya masih salah, selalu ada yang salah.

Salah karena terlalu idealis menerapkan semua teori-teori dari dokter lah. Salah karena masakannya tidak enak lah. Salah karena ia yang masih kurang sabar. Mengapa selalu salah padahal rasa-rasanya ia sudah melakukan semua yang terbaik yang ia bisa? Lambat laun ia merasa gagal. Ditatapnya lekat wajah anak semata wayangnya itu, “Sepertinya kamu akan tumbuh lebih baik tanpa Ibu, Nak.”, batinnya pilu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *