Menolak Bercinta, Bisa Jadi Karena Vaginismus

Tahukah kamu bahwa penyakit vaginismus merupakan penyakit misterius yang dapat terjadi pada perempuan? Gejalanya yang sulit diketahui, bahkan jika kurang pemahaman tentang penyakit ini dapat berujung pada ketidakpuasan di ranjang atau bahkan perceraian. Yuk pahami gejala dan atasi vaginismus dengan cara di bawah ini.

Mengenal Vaginismus dan Gejalanya

Vaginismus adalah salah satu gangguan disfungsi seksual yang paling umum terjadi pada perempuan. Vaginismus merupakan kaku otot sekitar dinding vagina yang tidak dapat kita kendalikan sehingga tidak bisa menerima penetrasi dalam bentuk apapun. Penderita vaginismus tidak bisa mendapatkan penetrasi sama sekali, termasuk USG tranvaginal. 

Gejala yang dialami penderita vaginismus dapat bervariasi tergantung tingkat keparahannya. Pada beberapa penderita vaginismus, penetrasi masih dapat dilakukan walaupun dirasa nyeri luar biasa. Namun ada juga benar-benar tidak mampu melakukan penetrasi karena otot vagina langsung tertutup rapat.

“Ibarat mau menembus tembok, mentok, kalau dipaksakan sakit dan berdarah,” ujar Teh Syera Verni Nuansa. Perempuan berusia 30 tahun ini menceritakan pengalamannya berjuang untuk sembuh dari vaginismus yang dideritanya selama 4 tahun terakhir dalam kesempatan berbagi Master Mind (MM) di Bumi Kabungah 5.

Vaginismus yang dialaminya baru disadari setelah 8 bulan menikah. Saat itu Teh Syera diliputi kebingungan karena merasa dirinya selalu tampak “menolak” berhubungan suami istri. Konsultasi ke medis telah dilakukan, tapi tidak membuahkan hasil. Bahkan seringkali hanya disarankan untuk hypnotherapy. Setelah mencari tahu lewat artikel-artikel di internet, barulah ia menyadari bahwa yang dialaminya merupakan penyakit yang memang bisa terjadi pada perempuan. 

Penyebab Vaginismus

Vaginismus terjadi karena kekakuan otot vagina. Dalam tubuh manusia terdapat tiga macam otot. Ada otot yang sifatnya dapat kita kendalikan sepenuhnya, seperti misalnya otot tangan, kaki, dan sebagian besar otot di tubuh kita. Ada juga otot yang mampu kita kendalikan sebagian, misalnya otot yang menggerakkan kelopak mata. Kadang otot tersebut bergerak secara otomatis, kadang dapat kita gerakkan atas kemauan sendiri. Terakhir, ada otot yang sepenuhnya tidak bisa kita kendalikan, yaitu otot jantung dan vagina. Otot-otot tersebut sama sekali tidak ada terpengaruh oleh kondisi pikiran manusia.

Karena itu, hingga saat ini, penyebab vaginismus masih belum diketahui jelas. Ada yang mengatakan terjadi karena ketakutan untuk bercinta atau trauma psikologis lainnya. Namun, hal tersebut tidak berdasar. Bisa saja tidak ada penyebabnya sama sekali. Dalam sebuah jurnal yang meneliti tentang vaginismus, tidak didapatkan hubungan antara ada tidaknya trauma psikologis dengan kondisi vaginismus.

Vaginismus, Kehamilan, dan Persalinan

Selain itu, kondisi vaginismus juga kerap kali membuat penderitanya sulit untuk hamil. Banyak pejuang vaginismus yang masih belum dikarunia anak, stres, dan yang paling parah adalah berujung perceraian. Teh Syera sangat bersyukur karena ia mampu hamil pada usia 9 bulan pernikahan dan kini anaknya telah berusia 3 tahun. 

Kehamilan pada penderita vaginismus umumnya disebut splash pregnancy atau kehamilan tanpa penetrasi. Hal tersebut masih memungkinkan untuk terjadi karena sperma memiliki kemampuan berenang dalam vagina untuk membuahi sel telur walaupun dikeluarkan di pintu vagina.

Persalinan pada vaginismus juga menjadi tantangan. Pada penderita vaginismus yang masih bisa dilakukan pemeriksaan dalam melalui vagina, maka persalinan melalui vagina masih dapat dilakukan. Namun apabila tidak dapat diperiksa, maka jalan paling aman adalah operasi sesar.

Bukan berarti setelah melahirkan melalui vagina maka vaginismus akan usai. Justru terkadang vaginismus sekunder dapat terjadi akibat persalinan per vagina. 

Vaginismus dan Keluarga: Komunikasi adalah Kunci

Dalam perjuangannya untuk sembuh, Teh Syera mengaku banyak kendala yang dialami. Pada awalnya sulit bagi Teh Syera untuk membuka diri, apalagi mengakui kalau dirinya menderita vaginismus. Selama itu ia memutuskan untuk memendam karena dipikir akan menyelesaikan masalah. Tapi ternyata malah ‘menggerogoti’ jiwanya secara perlahan sehingga muncul label ‘aku tidak berharga’.

Setelah bergabung di IP, mengikuti kelas dan training psikologi, Teh Syera akhirnya berani berdamai dengan diri sendiri. 

“Selama 4 tahun aku diliputi rasa takut luar biasa dan menutup diri. Sampai akhirnya bergabung di Matrikulasi IP Jakarta waktu itu membuatku jadi merasa lebih berharga dan lebih percaya diri dalam menjalani hari-hariku. Masya Allah luar biasa bahagianya aku bisa bergabung di komunitas ini,” tutur Teh Syera.

Dukungan dari sekitar sangat berpengaruh dalam penyembuhan penyakit ini. Tidak semua pasangan mau menerima kondisi istrinya yang vaginismus. Hal tersebut ia dapat berdasarkan sharing pengalaman sesama penderita di komunitas vaginismus. Namun, Teh Syera bersyukur memiliki suami yang begitu sabar menjalani semuanya, meskipun sangat berat mulanya.

Menurut Teh Syera, kunci utamanya adalah komunikasi. Cari tahu dan pahami bersama dengan suami soal vaginismus, sehingga keduanya tidak saling menyalahkan tapi justru saling menguatkan. Insya Allah semua akan dapat dilalui.

Berusaha Sembuh dari Vaginismus

Derajat keparahan pada vaginismus dibagi menjadi derajat 1 sampai 5. Pada derajat 1-2 umumnya masih bisa terjadi penetrasi tapi sesekali gagal atau merasa sakit. Sedangkan pada derajat 3-5 sama sekali tidak bisa dilakukan penetrasi.

Setelah mengetahui dirinya hamil, Teh Syera rehat dari segala pencarian tentang vaginismus. Baru di tahun ketiga pernikahan, ia dan suami memutuskan untuk mencari pertolongan. Tak banyak dokter ahli kandungan yang memahami kondisi ini. Beruntung mereka dipertemukan oleh seorang dokter kandungan yang memang mendalami tentang vaginismus.

Teh Syera divonis menderita vaginismus derajat 3 yang itu berarti prosedur terapinya hanya melalui operasi. Setelah prosedur operasi dilakukan, ia masih harus latihan dilatasi mandiri dengan dilator. Alhamdulillah setelah 4 tahun berjuang, akhirnya Teh Syera dinyatakan “lulus vaginismus”. Kriteria lulusnya adalah ketika vagina telah mampu menerima penetrasi.

Ingin menjadi Support System penderita Vaginismus

Kini Teh Syera memberanikan diri berbagi soal vaginismus dengan niat untuk menolong penderita vaginismus lainnya. Harapannya, ia bisa jadi teman berbagi dan support system buat mereka yang masih berjuang sembuh. Supaya para perempuan lebih menyadari bahwa ini adalah murni penyakit, bukan salah perempuan. Karena selama ini selalu perempuan yang disalahkan dalam kasus vaginismus.

Setelah semua perjuangan ini, Teh Syera mengaku banyak hikmah yang ia peroleh dari penyakit yang dideritanya. “Setiap orang pasti punya ujian dengan kadarnya masing-masing. Kuncinya sabar dan ikhlas. Percayalah Allah punya rencana terbaik untuk kita semua. Tetap semangat ya, Tetehs,” pungkasnya. (Danica)

Hits: 3

Related posts

Leave a Comment