Resume DisWap RB Literasi: Rekomendasi Jalan-jalan Sejarah Keluarga bersama Ridwan Hutagalung

DISKUSI WHATSAPP RB LITERASI IBU PROFESIONAL BANDUNG “REKOMENDASI JALAN-JALAN SEJARAH UNTUK KELUARGA” BERSAMA RIDWAN HUTAGALUNG

Selasa, 11 Desember 2018 / Pukul 13.00-14.00 WIB

A.       MATERI DISKUSI WHATSAPP (DISWAP)

Bahan Singkat Wisata Sejarah di Bandung

Oleh: Ridwan Hutagalung

Bandung sebagai daerah tujuan wisata sudah dikenal orang sejak zaman kolonial dulu. Sejak tahun 1900-an orang sudah menulis buku-buku berisi panduan wisata di Bandung dan sekitarnya, bahkan salah satu walikota Bandung dulu pernah menulis buku semacam itu, judulnya “Gids van Bandoeng enOmstreken” (1921), penulisnya adalah S.A. Reitsma yang menjabat sebagai walikota Bandung periode 1921-1928.

Kebanyakan buku panduan wisata Bandung baheula menawarkan wisata alam dan petualangan dan umumnya mencakup kawasan luas di sekitar Kota Bandung sekarang. Tujuan-tujuan wisata Lembang, Subang, Pangalengan, Ciwidey, Padalarang, sampai ke Garut, dapat ditemukan daftar dan rinciannya dalam buku-buku panduan tersebut.

Untuk objek-objek wisata di dalam kota Bandung, umumnya yang ditawarkan adalah hotel-hotel yang sudah punya nama seperti Grand Hotel Preanger dan Savoy Homann, lalu wisata belanja ke Pasar Baru, keramaian di Alun-alun, bioskop, dan walking tour melihat gedung-gedung modern di pusat kota, seperti di kawasan Groote Postweg (Jl. Asia-Afrika), Bragaweg (Jl. Braga), Archipelwijk (kawasan militer), atau kunjungan ke taman-taman kota yang banyak tersebar di daerah utara kota.

Jalan-jalan kaki di tengah kota pada masa kolonial itu dipromosikan sebagai suatu pengalaman yang akan menyenangkan karena pengunjung dapat menikmati udara sejuk dan segar di Bandung (sekitar 14-22 C) sambil menikmati bangunan-bangunan modern dalam berbagai gaya arsitektur yang sedang tren di dunia (terutama artdeco, dan yang khas di Bandung yaitu Indo-Eurepeesche Architectuur stijl). Atau berbelanja fashion terbaru di Bragaweg dan setelahnya menikmati taman kota di Pieterspark. Pengalaman yang mungkin sulit didapatkan dengan mudah di kota-kota lain di Hindia Belanda.

Kepariwisataan Bandung terus dikembangkan dan dikemas mengikuti arah zaman. Pada masa kemerdekaan, objek wisata bertambah dengan fashion tradisional seperti payung- payung tradisional dari Tasikmalaya, wayang golek dan angklung, atau kelom geulis. Pada tahun 1980-an ada sentra jeans di Cihampelas dan sentra sepatu di Cibaduyut. Berbarengan dengan ini, berkembang pula berbagai tawaran dalam dunia kuliner, toko roti Sidodadi, Colenak Murdi Putra, Café Rasa, Toko You, Braga Permai, sampai ke batagor, cimol, seblak, dan seterusnya.

Di masa ini, tawaran wisata alam yang tadinya alami cenderung berubah menjadi wisata alam buatan atau dikemas menjadi satu paket lengkap: alam, kuliner, fashion, dan lain-lain. Hal ini bisa dilihat dari perkembangan situasi di Situ Cileunca, Situ Patenggang, Situ Bagendit, Situ Cangkuang, Maribaya, saung Udjo, sampai yang belakangan ini marak: Dusun Bambu, The Lodge, Glamping Lakeside, dan seterusnya. Lalu bagaimana nasibnya dalam kota?

Paling sedikit ada tiga hal yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Fashion tetap hadir lewat kemunculan berbagai factory outlet dan komunitas-komunitas yang mengembangkan berbagai macam konsep clothing. Kuliner seakan tak pernah mati di Bandung, dalam 10 tahun ini saja mungkin muncul ratusan kafe, restoran, dan kedai- kedai makan dalam berbagai gaya dan sajian yang unik. Sebagian bertahan cukup lama, sebagian muncul sebentar dan menghilang tak lama kemudian. Walaupun begitu, dunia kuliner di Bandung tidak pernah mati, bahkan belakangan sudah ada tour-tour spesifik dengan tema kuliner.

Satu lagi yang mungkin dapat dianggap agak baru adalah kecenderungan wisata dengan tema sejarah (kolonial) di dalam kota Bandung. Kemodernan yang pernah dijual sejak awal tahun 1920-an yang sudah disebutkan di atas, sekarang dijual lagi dengan balutan sejarah. Ya, wisata sejarah di Kota Bandung. Objek yang ditawarkan adalah berbagai gedung tua di kawasan-kawasan yang dibangun dan dirancang oleh pemerintah Kota Bandung pada masa kolonial dahulu: Bragaweg dengan sisa bangunan tua yang masih berjajar di sisi kiri-kanan jalan, kawasan Gedung Sate, kawasan Archipelwijk (sekitar Taman Pramuka sampai Taman Lalu Lintas), Pecinan dan Pasar Baru, kawasan sekitar Stasiun KA Bandung, atau kawasan Dago.

Sebagian yang cukup jeli melihat kesempatan, dapat menyelenggarakan suatu tour yang menggabungkan berbagai bidang di atas, wisata sejarah sekaligus kulineran dan belanja. Walaupun ini tampak mudah, namun sebetulnya ada hal yang harus ditimbang baik-baik: penyusunan narasi sejarah kota yang sebaiknya dilakukan dengan bertanggung jawab. Dari sekian banyak penyelenggara tour, sangat sedikit yang membuat atau menulis narasi sejarahyang dapat dipertanggungjawabkan, artinya, bukan hasil copy paste, bukan menggunakan sumber sekunder seperti internet, pencantuman sumber-sumber acuan, pemandu-pemandu yang memang paham betul narasi sejarah (kolonial) di Kota Bandung, dan seterusnya.

Semangat comot sana comot sini dalam menyediakan informasi sejarah Bandung masih terlihat sangat tinggi. Satu topik tulisan yang dipost oleh seseorang di blog atau media sosial lain, bisa direpost hingga ratusan kali tanpa izin atau pemeriksaan isi secara baik. Akibatnya banyak kesalahan materi yang terus dilipatgandakan di media internet. Bila hal ini terus dibiarkan, maka dapat diduga, kehidupan wisata sejarah di Bandung tidak akan mampu bertahan lama, walaupun sebetulnya banyak sekali materi yang masih dapat ditulis dan diinterpretasi ulang dalam wacana sejarah Kota Bandung.

Saya kira, ini saja pengantar dari saya untuk bahan diskusi kita. Terima kasih,

Ridwan Hutagalung (Komunitas Aleut)/ 10 Desember 2018

B.        SESI TANYA JAWAB BERSAMA BANG RIDWAN

1.Agin_member IP

Waah, pengalamannya bang Ridwan mantep nih. Bang, sebelum kita bahas rekomendasi wisata sejarah buat keluarga… Pengen tahu dong Bang, kalau kegiatan di Komunitas Aleut apa aja biasanya?

Jawab: Awalnya sebetulnya fokus sama apresiasi wisata dan sejarah Kota Bandung saja, kemudian berkembang ke wilayah Priangan. Metodenya dengan membaca, mengumpulkan referensi, dan walking tour setiap hari Minggu. Walking tour ini isinya semacam tapak tilas bangunan-bangunan tertentu, rute atau kawasan tertentu  di Kota Bandung.

Setelah punya cukup banyak hasil amatan di lapangan, kami juga membuka kelas-kelas dan pelatihan-pelatihan untuk menuliskan berbagai pengalaman walking tour (yang kami sebut ngaleut) itu dan memublikasikannya di website komunitasaleut.com. Sejak perintisannya, sudah ada sekitar 1500 tulisan amatiran tentang sejarah Kota Bandung.

Belakangan, sejak 2010, kami juga aktif menulis dan menerbitkan buku-buku terkait Bandung, sudah ada sekitar 10 buku yang terbit.

2.Novya_Cihanjuang_member IP

Saya dan keluarga termasuk keluarga yang menyukai kegiatan traveling sambil belajar. Saya pribadi sudah mengetahui Komunitas Aleut namun belum berjodoh untuk mengikuti kegiatan yang diadakan. Beberapa rute kunjungan Komunitas Aleut pernah saya gunakan dalam agenda family time kami.

Kami menyukai cerita dan sejarah dari suatu tempat yang kami kunjungi, namun ada beberapa tempat di Bandung yang pernah kita datangi masih belum dilengkapi dengan informasi yang jelas tentang tempat tersebut.

Kami pernah berkunjung ke KM O Bandung, Penjara Banceuy, ke rumah seni Ropih di Braga, ke Masjid Lau Tse dengan cat kuning yang terang, karena tidak ada guide yang kami tanya, kami mengandalkan Google.

Akhirnya selama ini ketika ingin menjelaskan sejarah ke anak-anak, kami memilih lebih berkunjung ke museum karena ada bahan yang bisa kami ceritakan. Apakah bisa di-share informasi terkait kegiatan kunjungan dan belajar tentang sejarah yang bisa kami gunakan panduan?

Jawab: Hampir semua materi ini sebetulnya sudah pernah dipublikasikan di komunitasaleut.com dan sebagai tambahan bisa akses juga mooibandoeng.com yang saya kelola sendiri. Sebaiknya dari bahan bacaan itu, mulai dipilah-pilah per bangunan atau per kawasan, sehingga kita bisa tahu sudah memiliki informasi apa/mana saja.

3.Gita_Ciwastra_member IP

Bagaimana agar membuat sejarah itu menyenangkan? Bagaimana membuat anak tertarik dengan sejarah?

Jawab: Kalo pake model di Aleut, dengan cara turun ke lapangan, melihat langsung objek-objek yang biasa/sering dibahas di buku-buku. Jadi sebaiknya ada pengamatan dan pengalaman langsung.

4.Yulia_member IP_Subang

Mau tanya, sejak usia berapa anak bisa diajak napak tilas?

Jawab: Yang pernah kami jalankan, yang termuda dengan anak-anak TK. Modelnya tentu berbeda, waktu itu yang kami bikin jalan-jalan di sekitar Jl. Braga dan anak- anak menggambar apa saja yang menarik perhatian mereka. Nah, apa yang mereka perhatikan dan pilih untuk di gambar ini, bisa dikembangkan lagi nantinya oleh masing-masing orang tua.

5.Adhya_Pasirhonje_nonmemberIP

Apa saja wisata cagar budaya di Bandung yang menarik untuk anak di bawah 5 tahun dan bagaimana mengenalkan sejarah pada anak usia tersebut?

Jawab: Ini lebih banyak masalah bahasa. Bagaimanapun ilmu sejarah tidak mudah untuk diajarkan kepada anak-anak karena ada metode-metode (sejarah) yang harus diterapkan. Tapi untuk dasar pengetahuan umum saja, bisa dengan menunjukkan bagaimana berbedanya bangunan kolonial dengan bangunan-bangunan sekarang, bagaimana pemerintah dulu membuat aturan untuk melindungi pejalan kaki dengan mewajibkan keberadaan trotoar di kedua sisi Jl. Braga. Jadi lebih deksriptif.

6.Witri_Member IP

Salam kenal Bang Ridwan

Komunitas Aleut ini suka bikin saya mupeng untuk ikutan, tapi belum pernah terealisasi. Izin bertanya, kalo untuk jalan-jalan seusia anak TK biasanya Komunitas Aleut akan mengajaknya ke mana saja? Dan berapa km biasanya?

Jawab: Yang termudah di sekitar Jalan Asia-Afrika, Braga, dan Alun-alun untuk pengenalan sejarah berdirinya Kota Bandung. Pilihan lainnya ke taman-taman yang juga berhubungan dengan kisah Bandung tempo dulu seperti Taman Balaikota, Taman Maluku, atau Taman Pramuka.

Untuk anak-anak tidak perlu terlalu jauh. Dari Hotel Preanger ke Alun-alun dan ke Monumen Sukarno di Banceuy saja sudah cukup banyak objek yang bisa diamati bersama.

Untuk anak-anak, yang terpenting itu pengalaman melihat langsung, mengamati (dipandu orang dewasa), dan mencoba mengenali apa saja yang dilihat/terperhatikan selama dalam perjalanan.

7.Isti_ dago_ IP bandung

Bang Ridwan, kami rutin bikin acara liburan edukatif untuk anak anak. Rencananya ingin bikin program baru kaya Inspiring Tour atau ecotour, untuk Ibu dan Anak, dengan kombinasi value ramah lingkungan dan sejarah yang fun. Bang Ridwan ada rekomendasi lokasi bersejarah di Bandung yang ada keterkaitannya dengan edukasi ramah lingkungan? Kalau di sekitar Dago, lokasi bersejarah apa yang menarik untuk dikunjungi? Terima kasih

Jawab: Bisa eksplorasi Taman Maluku, Taman Badak Singa sekalian cerita tentang sistem PDAM, Taman Ganesha sekalian cerita tentang keberadaan ITB, atau Lebak Siliwangi yang bisa sekalian cerita tentang sungai Ci Kapundung, sistem PDAM (lagi), sistem pengairan dan lain sebagainya.

8.Isti_ dago_ IP bandung

Kalau kisah menarik dan inspiratif dari Taman Maluku apa ya, Bang? Kalau dulu kan kesannya agak “negatif” tapi sekarang mulai rapi dengan playground.

Jawab: Iya sekarang mulai rapi dan menarik. Penceritaan bisa dengan kenapa pakai nama Maluku (kesatuan Indonesia) dan kenapa ada patung pastor Verbraak di situ >> informasi ini ada lengkap di mooibandoeng.com

9.Rach Alida_nonmember IP

Kak, agenda untuk walking tour itu biasanya setiap sebulan sekali atau gimana ? Dan berapa biayanya ? Makasih, Kak.

Jawab: Walking tour reguler atau Ngaleut itu setiap hari Minggu. Infonya selalu ada di Instagram @komunitasaleut. Biaya untuk reguler hanya pendaftaran keanggotaan saja Rp. 15,00 untuk satu tahun. Semua kegiatan gratis (pengeluaran ditanggung masing-masing).

10.Agin_Member IP

Bang, kalo selama ini yang sudah-sudah jika Komunitas Aleut membimbing anak- anak usia SD itu biasanya mereka dikenalkan ke tempat mana aja sih? Dan paling banyak Komunitas Aleut bisa membimbing/mengguide berapa anak dalam sekali tour?

Jawab: Untuk anak-anak, 20 anak sudah cukup banyak per kelompoknya. Jadi kalo lebih banyak dari itu biasanya disiapkan beberapa pemandu. Alternatif objek kunjungannya sudah disebutkan dalam salah satu jawaban di atas.

11.Agin_Member IP

Bang Ridwan dari tadi kan kita banyak bahas tentangwisata sejarah, ya… Kira-kira kalau wisata kuliner yang bersejarah ada nggak sih bang di Bandung ini?

Jawab: Ya ada banyak wisata sejarah dan kuliner juga di Bandung. Kami pernah bikinkan materinya untuk BCCF yang dikemas sebagai Jalan-jajan. Di Alun-alun ada gorengan Simanalagi atau toko roti Sidodadi, di Balonggede ada mie Linggarjati yang sejak dulu udah terkenal sekali terutama es alpukatnya (bisa minta yang halal di sini).

Yang agak mewah bisa ke Braga Permai dan Sidewalk Cafe di Homann, lalu ada Sumber Hidangan di Braga yang masih punya banyak menu dari zaman Belanda, dan Kafe Rasa di Tamblong (di sini selalu ada lontong Cap Go Meh yang di tempat lain hanya disajikan sekitar Imlek). Di Pasar Baru ada es goyobod yang sudah berjualan di sana sejak tahun 1949. Ada roti duti, Wedang Alketeri, lotek Alketeri, dan lain-lain.

Di sini masih banyak penganan ringan dari zaman Belanda. Es krimnya juga masih tradisional. Dan di sini kita bisa tau bahwa istilah meises (butiran coklat) yang selama ini kita gunakan itu sebenarnya salah pake.

12.Agin_Member IP

Bang Ridwan setelah baca penjelasan tentang wisata kuliner tadi, saya  jadi tertarik dengan wisata kuliner agak mewah. Nah, ini kuliner agak mewah itu biasanya menu apa sih yang disajikan bang?

Jawab: Mewahnya lebih karena tempatnya sih, otomatis menunya juga mahal. Di Braga Permai itu masih diproduksi coklat terbaik di Bandung, kue-kue atau penganan kecil semacam itu yang masih pake resep dari zaman Belanda, es krim dan roti-roti yang diolah pake cara tempo dulu. Untuk makanan berat, umumnya sudah berubah mengikuti zaman. Harganya sekitar Rp 15.000-30.000 untuk makanan tradisional dan ratusan ribu untuk menu makanan Eropa/Barat.

13.Isti_ dago_ IP bandung

Kalau Gedung Sate apa boleh dikunjungi umum, Bang? Atau hanya boleh sampai Museum Gedung Sate aja?

Jawab: Kalo gedungnya harus dengan izin dari Kamdal (Keamanan Dalam), kadang engga sulit kok izinnya. Yang terbuka untuk umum museumnya saja. Kalo gedung perkantorannya hanya bisa diakses di hari libur dengan ditemani Kamdal.

14.Novya_Cihanjuang_member IP

Kang, kalau di tempat yang ada di list website Komunitas Aleut, kita boleh nanya-nanya di sana? Atau ada pojok khusus yang menyediakan informasi?

Jawab: Boleh tanya-tanya langsung tapi biasanya agak lambat responnya karena sedang banyak dipush untuk pekerjaan lain kerja sama dengan Disbudpar. Bisa juga tanya-tanya/komunikasi lewat Instagramnya @KomunitasAleut.

C.        CLOSING STATEMENT BANG RIDWAN

Ya, sebaiknya memang kita bisa memanfaatkan lebih banyak fasilitas kota yang tersedia di Bandung ini, menjadi bagian dari penggunanya, kalo perlu pengeritiknya (asal jangan nyinyir), juga dengan menggunakan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan begitu, masyarakat akan punya hubungan batin lebih baik dengan kota ini. Kota Bandung ini engga memerlukan pembangunan yang luar biasa sebetulnya, yang lebih diperlukan adalah keterlibatan masyarakatnya di setiap sudut dan di setiap perkembangannya.

Kata sayang Kota Bandung itu harus jadi praktik dan bukan konsep. Itu aja kali, ya? Dan buat saya, salah satu pendekatan terbaiknya adalah dengan memperbanyak kegiatan berwisata di Kota Bandung sendiri. Bukan oleh pengunjung-pengunjung dari luar kota saja, tapi dari kita sendiri juga. Semoga bermanfaat benar ya.

D.       PROFIL SINGKAT RIDWAN HUTAGALUNG

Saya, Ridwan Hutagalung, mengasuh Komunitas Aleut, komunitas apresiasi wisata dan sejarah Kota Bandung sejak tahun 2007, tapi sebagai perintis sejak tahun 2003.

E.        PROFIL SINGKAT KOMUNITAS ALEUT

Penyunting: Dece @ibujerapah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *