Resume KulWap RBB-Homeschooling bersama Pak Dodik Mariyanto

Tanggal 1 Januari 2018 pukul 20.00-21.00 WIB
Moderator dan Notulis: Yuan

Tema obrolan kita dimalam mengawali tahun 2018 ini “Memandang anak dengan positif.”

Pertanyaan sederhana: “Memang ada yang memandang anak (sendiri) dengan negatif?”

Saya yakin bunda-bunda yang hadir saat ini–yang mengandung ananda 9 bulan 10 hari–tentulah memiliki pengharapan baik terhadap sang janin sejak masih di dalam rahim. Benar demikian?

Maka default mode pandangan orang tua terhadap anak (sesungguhnya) adalah POSITIF.

Lalu, apa yang membuat pandangan positif ini dapat berubah menjadi negatif?

Pergeseran ini dapat timbul diawali dengan kekecewaan (kecil) karena ananda tumbuh tidak seperti yang diharapkan. Sementara “harapan” itu bisa hadir akibat dari:

  1. Pengalaman masa lalu orang tua tentang “yang seharusnya”;
  2. Standar yang dianggap “normal”;
  3. Membandingkan dengan anak-anak yang lainnya. Mulailah muncul pikiran: “Mengapa anakku tidak seperti si A?” atau “tidak sebaik si B?” dst.

Nah, pandangan positif orang tua dirawat dengan:

  • Memahami bahwa setiap anak lahir unik dan telah diperlengkapi oleh Sang Pencipta dengan “kemampuan” agar dapat menjalankan peran hidupnya dengan baik,
  • Setelah paham kemudian, Menerima karunia Ilahi itu dengan sepenuh rasa syukur,
  • Bersama ananda, Menyusun langkah-langkah untuk mengembangkan dan memanfaatkan karunia Ilahi itu dengan sebaik-baiknya.

Merawat pandangan positif ini penting karena akan berpengaruh terhadap tindakan terhadap anak. Yang terkecil setidak-tidaknya pandangan ini akan mendorong timbulnya gerak hati yang selaksa lantunan doa kepada Yang Maha kuasa. Tentu kita senantiasa menginginkan mengucap doa yang terbaik untuk ananda.

Bilamana ananda sesekali berbuat hal yang tidak sesuai dengan harapan atau—bahkan yang lebih buruk–berkembang menjadi anak yang tidak sesuai harapan,

Ingatlah bahwa semua bayi mungil itu terlahir suci, mereka menjadi seperti keadaannya saat ini adalah akibat dari pendidikan orang tuanya.

Sesi Tanya dan Jawab

  1. Wiwik: Pak dodik, apa parameter/indikator bahwa anak-anak kita on track tanpa harus memandang bahwa perilaku/sikap mereka ada penyimpangan/negatif?

Pak Dodik: Untuk bisa menyebut on track (atau mungkin off track) maka terlebih dahulu bunda mesti punya “track”-nya, kemudian memahamkan “track” itu kepada ananda.

Nah, pertanyaannya: Sudahkah Bunda memiliki “track” itu?

Wiwik: Track-nya sudah ada pak.. So far masih on track, Tapi kadang merasa galau.. Apa iya bener ini. Misal, pohon jati sudah berada di tanah yang tepat?

Pak Dodik: Lihat “hasil”nya. Apakah sesuai dengan “track“? Sesuai dengan harapan ananda dan orang tuanya?

Jika ya, lanjut. Jika tidak, diskusikan untuk tindak lanjutnya.

Wiwik: kalau ada yang belum sesuai tapi sebenarnya tidak melenceng jauh.. Itu bagaimana tindaklanjutnya ya pak?

Pak Dodik: Kuncinyaitu, NGOBROL. Bicarakan dengan ananda, lalu sepakati tindaklanjutnya. Siapa tahu ternyata yang dianggap “melenceng” itu ternyata lebih membahagiakan dan lebih mengantarkan ke arah yang lebih cerah.

  1. Srie: Bagaimana cara kita untuk selalu berpikir dan memandang anak kita dengan selalu positif? Karena kadang spontan tanpa kita sadari ada aja hal yang membuat kita ke hal yang terdekat aja sebelum membandingkan ke anak orang lain bisa juga membandingkan kakaknya dengan adiknya atau adiknya dengan kakaknya.

PakDodik: Jika Bunda tahu bahwa “membandingkan” seorang anak dengan anak-anak yang lain (meski itu kakak atau adiknya) membuat pandangan Bunda bergeser ke arah negatif, maka JANGAN MEMBANDINGKAN.

Coba baca lagi 3 langkah dasar dalam bacaan pengantar untuk tetap mempertahankan pandangan positif. Lakukan saja itu dengan konsisten. Ajaklah suami untuk saling mengingatkan menepati langkah-langkah itu. Dan berbesarlah hati untuk mau mendengarkan pendapat ananda bilamana Bunda memang menyalahi ketiga hal itu.

Dan satu lagi, seperti apapun kondisi ananda, itu semua adalah hasil pendidikan bunda dan ayahandanya.

Srie: Nah,pak niat tak ingin membandingkan tapi secara gak sadar kadang inner child ini muncul.. dan malah membandingkan anak kita dengan diri kita dulu pas kecil..

Pak Dodik: Jika memang demikian, selesaikan juga persoalan Bunda sendiri. Barangkali akarnya justru ada di sana. Jika Bunda kesulitan dalam hal ini, hubungiprofesional.

  1. Liza: Pak dodik, saya mengagumi Bu Septi dan bapak dalam mendidik anak-anaknya. Yang saya ingin tanyakan:
  • Cara bapak dan ibu memandang psotif terhadap anak muncul dari pengalaman pribadi atau hasil dari belajar bapak dan ibu?
  • Pak, kalau boleh tahu bapak dan ibu bisa berhasil seperti sekarang ini dulunya belajar parenting dengan cara berguru ke orang lain seperti saya dan teman-teman di IIP ini atau otodidak dari baca buku atau mengikuti seminar/pelatihan parenting atau belajar privat khusus ke satu orang?
  • Siapakah tokoh yang menginspirasi model parenting yang bapak terapkan untuk keluarga?

Pak Dodik:
1. Ada yang dari proses belajar,  ada yang dari pengalaman sendiri dan pengalaman orang lain.
2. Kami belajarkepadakeluarga2yangsuksesdalammembangunrumahtangga
3. Dasarnya dari merekonstruksi rumah tangga junjungan kami Rasulullah SAW dan hasil didikan orang tua kami. Kemudian kami beruntung didekatkan dengan keluarga-keluarga hebat yang menjadi orang tua-orang tua angkat disepanjang hidup kami.

Liza: Untuk no 2, boleh diberi contoh keluarga sukses yang dijadikan role model oleh bapak dan ibu?

Pak Dodik: Keluarga Isnawandi Surabaya dan Keluarga Dadang Purbana di Bandung.

Upyuth: Bapak, apa yang membuat 2 keluarga ini sangat istimewa? Hal apa yang bapak dan ibu pelajari dari keluarga ini?

Pak Dodik: Pola komunikasi dan hubungan orang tua-anaknya keren.

Liza: Terkespos di internet atau bapak mengenal secara pribadi?

Pak Dodik: Pribadi.

  1. Yuan:
    1. Ketika perilaku anak-anak menguji kesabaran bapak, apa yang bapak lakukan? Apakah pernah marah-marah ke anak-anak?
    2. Ketika ternyata anak kita tidak sesuai harapan dan kita benar-benar menyesalinya, bagaimana sikap terbaik kita menyikapi keadaan tsb?

Pak Dodik:
1. Marah pernah, Marah-marah tidak. Jika tindakan anak keluar dari values yang telah disepakati, wajib untuk dikembalikan ke relnya.
2. a. Istighfar, mohon ampun kepada Sang Khalik yang telah mempercayakan amanahnya kepada kita.
b. Minta maaf kepada ananda bahwa ia menjadi seperti itu karena hasil pendidikan kita orang tuanya.
c. Bicarakan bersama tindaklanjut seperti apa yang hendak dilakukan untuk mengubah keadaan yang sama-sama tidak dikehendaki itu.

  1. Yuan: Bedanya antara marah dan marah-marah, dilihat dari apa ya pak?
    Liza: Perbedaannya kalau marah ada sebab yang jelas, kalau marah-marah gak  ada sebab yang jelas, gitu bukan pak?

Pak Dodik: Betul

  1. Liza: Pak dodik, apakah bapak dan ibu memiliki inner child? Bawaan dari pola pengasuhan masa kecil orang tua yang terbawa ke pengasuhan anaknya…

Pak Dodik: Ada

Liza: Yang positif atau negatif pak? Kalau pengamatan saya sekarang, banyak ibu-ibu yang mengalami inner child negatif.. jadi terulang di pengasuhan yang sekarang.

Pak Dodik: positif.

Liza: Alhamdulillah beruntungnya ya

  1. Amelia: Sebagai orang tua, kami selalu berusaha untuk memandang positif kepada anak. Namun bagaimana jika kaitannya dengan keluarga besar? Karena kadang ada beberapa anggota keluarga yang tidak bisa menerima atau memandang positif kepada anak-anak kita?

Pak Dodik: Apakah Bunda dan Ayahanda cukup kuat untuk menghadapinya?
Apakah Bunda sudah mendidik anak-anak untuk menjadi kuat menghadapinya? Apakah kini mereka kuat?

Jika YA, tidak masalah.
Jika TIDAK, pindah. Menjauhlah dari keluarga besar.

Diskusi Bebas

Pak Dodik, saya dengar Bu Septi fokus pengasuhan di rumah 8 tahun lamanya ya.. apakah di periode tsb Bu Septi pernah merasa jenuh? Kalau iya apa yang bapak lakukan?

Liza

Tentu pernah. Untuk itu perlu jeda, rekreasi, melakukan hal lain yang tidak biasa/non-rutin. Kami menerapkan MANTRA DASAR IIP:  Banyak main bareng,  banyak berkegiatan bareng dan banyak ngobrol bareng. Begitu saja.

Pak Dodik

Mantra dasar ini sejak awal menikah pak? Atau muncul seiring waktu?

Upyuth

Seiring Waktu

Pak Dodik

Subhanallah.. seru sekali ya.. baik pak terima kasih banyak ilmu dan inspirasinya Pak

Liza

Subhanallah.. seru sekali ya.. baik pak terima kasih banyak ilmu dan inspirasinya Pak

Liza

Sebelum mengakhiri kulwap malam ini, adakah pesan untuk kami pak dodik?

Yuan

Untuk perkara yang satu ini, percayailah hati nurani Bunda sebagai insan yang telah mengandung ananda 9 bulan 10 hari. Ikuti apa katanya. Jalani dengan bahagia bersama ananda. Semoga rahmat dan berkah Allah swt tercurah karenanya.

Pak Dodik
Artikel ini disunting oleh @quraeni.

Hits: 6

Related posts

Leave a Comment