Resume KulWap RBB Homeschooling: Life Skill Anak Milenial bersama Sri Haryati

Kita sering mendengar istilah life skill atau kecakapan hidup. Apakah makna dari life skills? Betulkah life skills berbeda dengan academic skills? Apakah anak yang memiliki academic skills berarti tidak memiliki life skills atau sebaliknya?

Banyak definisi yang memisahkan antara life skills dengan academic skills. Seperti yang banyak kita lihat, anak yang memiliki academic skills adalah anak yang tergolong pintar, cakap dalam pembelajaran akademik, namun katanya belum tentu memiliki life skills. Namun, ada juga anak yang mahir dalam memenuhi kebutuhan dirinya, seperti terampil memasak, melakukan aktivitas sehari-hari dengan mandiri, serta terampil dalam mengelola diri, maka hal ini disebut sebagai life skills.

Diskusi kali ini adalah mencoba memahami apakah life skills yang sesungguhnya dan apa yang benar-benar harus didahulukan dalam pendidikan terhadap anak-anak milenial dengan tantangan yang semakin besar ke depannya, serta seberapa darurat penguasaan life skills dan apa kaitannya dengan academic skills.

Pengertian Life Skills

Menurut Brolin (1989), life skills adalah interaksi berbagai pengetahuan dan kecakapan yang sangat penting dimiliki oleh seseorang sehingga mereka dapat mandiri.

Sedangkan menurut Kent Davis (2000:1), kecakapan hidup atau life skills adalah “manual pribadi” bagi tubuh seseorang. Kecakapan ini membantu peserta didik bagaimana memelihara tubuhnya, tumbuh menjadi dirinya, bekerja sama secara baik dengan orang lain, membuat keputusan yang logis, melindungi dirinya sendiri dan mencapai tujuan di dalam kehidupannya.

Pemahaman saya tentang makna life skills adalah kemampuan yang perlu dilatih dalam mengintegrasikan fisik, emosi, sosial, spiritual, dan kognitif dalam mengenali peran diri, memahami peran penciptaan, menyelaraskannya menjadi sebuah karya nyata sehingga memiliki manfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

Life skills dalam Islam

Konsepsi Islam tentang life skills dapat kita pahami dari ayat berikut ini: “Wahai orang beriman, bertaqwalah kepada Alah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang telah kamu kerjakan.”

Hal ini diikuti dengan petunjuk operasional dari Allah: “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan…” Sehingga tugas dari setiap manusia yang telah bersyahadat adalah bagaimana memasukkan Islam yang ideal dalam wadah kepribadian kita, dalam hal ini dibutuhkan keterampilan hidup (basic life skills) agar dapat menjadi muslim (orang Islam) dalam batasan wadah kepribadian manusia yang unik.

Manfaat Basic Life Skills

  1. Memiliki kemampuan dalam pengambilan keputusan
  2. Memiliki kemampuan dalam perencanaan diri
  3. Integrasi dalam spiritualitas
  4. Kelompok keterampilan life skills yang harus dimiliki
  5. Keterampilan mengelola fisik

Menyadari kebutuhan dirinya, menyadari pemenuhan kebutuhan dirinya, menyadari tantangan yang perlu dihadapinya, karena ini melatih kemampuan motorik, kontrol diri, dan daya juang mental.

Keterampilan mengelola emosi

Menyadari kelebihan dan kekurangan dirinya, menyadari siapa dirinya, menyadari pengelolaan emosinya, dapat menempatkan diri, dan dapat mengelola keinginannya.

Keterampilan mengelola kemampuan sosial

Menyadari dirinya sebagai bagian penting dari dunia sosial, mempertahankan dirinya, tidak mudah terbawa arus, bisa mewarnai lingkungannya dengan kebaikan.

Keterampilan mengelola spiritual

Memahami konsep kebaikan, antusiasme, rutinitas ibadah, dan passion for life.

Keterampilan mengelola kemampuan kognitif

Berpikir kritis, logika dan analisis yang berlandaskan kebermanfaatan dan hikmah, pemecahan masalah, dan ketuntasan dalam tugas.

Life skills berdasarkan usia

Life skills berdasarkan usia anak adalah membangun pondasi kemampuan keterampilan hidup agar anak secara bertahap dapat menyadari keberadaan dirinya, dimulai dari keterampilan memenuhi kebutuhan dirinya secara fisik, emosi, sosial, spiritual, dan kognitif.

USIA 5-7 TAHUN

Keterampilan Fisik

Anak dikenalkan pada pemenuhan kebutuhan fisik berupa stimulasi terhadap alarm rasa lapar sehingga solusinya makan, haus solusinya minum, berkeringat maka mandi.

Keterampilan Emosi

Anak dikenalkan pada emosinya dan diberi ruang untuk mengungkapkan ekspresi, serta mendapat rasa aman bahwa ekspresi emosinya dapat diterima oleh ayah dan ibu.

Keterampilan Sosial

Anak merasakan keberadaan dirinya di lingkungan keluarga dan pertemanan sederhana (di sekitar rumah atau kelas kecil).

Keterampilan Spiritual

Anak dikenalkan dengan konsep kebaikan dan antusiasme dalam beraktivitas, berkreasi, dan pengenalan semua kebaikan dengan koneksi vertikal yaitu illahiah.

Keterampilan Kognitif

Anak mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi sekitarnya dan kesempatan untuk bertanya dan mendapat penjelasan sesuai usianya.

USIA 7-10 TAHUN

Keterampilan Fisik

Melatih daya juang mental anak melalui eksplorasi alam (nature exploration), serta merasakan daya juang dalam menghadapi tantangan alam.

Keterampilan Emosi

Keterampilan mengelola emosi diri dan menenangkan diri, mengatasi konflik dengan saudara dan teman, dan mengelola keinginan.

Keterampilan Sosial

Kemampuan menempatkan diri dalam lingkungan sosial pertemanan, menghargai diri sendiri dan orang lain, belajar berempati, belajar sami’na wa ato’na (habits of obedience).

Keterampilan Spiritual

Memahami koneksi yang kuat terhadap kebutuhan spiritual, mengenal makna ibadah sebagai ajang melatih diri, nutrisi bagi ruh, kebutuhan untuk menenangkan diri.

Keterampilan Kognitif

Berpikir kritis, mengungkapkan dan bertanya, mengeksplorasi dengan praktik lewat sains dan kreativitas, serta meninjau ulang hasil eksplorasi.

USIA 10-14 TAHUN

Keterampilan Fisik

Mengolah fisik untuk mengelola jiwa muda yang sedang dipacu oleh hormon pertumbuhan, serta menyalurkan energi dan adrenalin ke dalam aktivitas fisik yang terarah.

Keterampilan Emosi

Berempati, kemampuan mengelola diri, kemampuan menjaga diri, memahami konsekuensi dari keputusan yang diambil, kemampuan menenangkan diri, kemampuan untuk merasakan emosi orang lain dan membantu menyelesaikan masalah.

Keterampilan Sosial

Kemampuan menempatkan diri dalam masyarakat, kemampuan mengelola tim dan penerapan leadership, serta kemampuan untuk menantang diri keluar dari zona nyaman.

Keterampilan Spiritual

Merasa bahwa kebutuhan spiritual adalah bagian tak terpisahkan dari diri sehingga membutuhkan kontinuitas ibadah dan mengarahkan aktivitas sebagai bagian dari peran penciptaan diri.

Keterampilan Kognitif

Implementasi dari berpikir kritis menjadi project learning dan problem solving, serta ketuntasan dalam menyelesaikan project yang sustainable.

Sharing session

Q1: Dari jenjang waktu saya tidak melihat untuk anak usia di bawah 5 tahun. Berarti pengajaran life skillsnya seperti apa?

A1: Fase usia 5 tahun ke bawah masih eksplorasi. Tidak perlu dirancang. Anak yang punya otonomi. Berikan lebih banyak kesempatan untuk kemandirian anak, kecuali untuk hal-hal berbahaya, maka orang tua yang mendampingi, mengapresiasi, dan memberikan kepercayaan, serta memberikan peringatan ketika eksplorasinya berbahaya sehingga tidak sebanding dengan risikonya.

Biasanya fitrahnya anak usia di bawah 5 tahun adalah banyak inisiatif, maka beri dia kesempatan. Konsekuensinya lebih kepada kesiapan orang tua dan respons yang diberikan.

Q2: Apakah life skills ini bisa dibilang salah satu hal yang harus diprioritaskan dipelajari atau merupakan tujuan pembelajaran anak-anak?

A2: Life skills adalah kemampuan yang sebetulnya sudah terpatri dalam diri anak, maka peran lingkungan adalah menstimulasinya dan menumbuhkannya. Sebetulnya setiap anak sudah didesain memiliki kemampuan ini, hanya kadang pengasuhan mencemari kemampuan anak menantang dirinya. Jadi ini seharusnya sudah terbentuk sejak awal pendampingan pengasuhan.

Q3: Apa artinya sebenarnya life skills bisa ‘hilang’ kalau stimulasinya tidak pas?

A3: Tidak hilang, hanya saja nanti lebih dipengaruhi oleh problem emosional, ketika kepercayaan diri dan keberanian itu tidak ada.

Q4: Apakah menjadi tidak optimal dalam berkembang? Lalu jika keterampilan ini tidak optimal terstimulasi di periode usia tertentu, apa bisa diulang di rentang usia selanjutnya atau kita lebih baik fokus dengan keterampilan di rentang usianya?

A4: Bisa tidak ada masalah, hanya penyesuaian di komunikasi dan koneksi/bondingnya saja. Yang terpenting setiap aksi direspons dengan tepat, percayakan, dan seringkali yang muncul adalah hal-hal yang tidak kita duga.

Q5: Apakah artinya nanti life skills ini bisa tumbuh lagi?

A5: Intinya ketika kita sudah tau PR yang harus dituntaskan–biasanya PR ini terkait emosi–selanjutnya PR ketuntasan life skills bisa dijalani. Kalau sudah TERKONEKSI maka KOREKSI jadi santai.

Q6: Berarti ketika emosi diperbaiki, selebihnya yang lain akanbmengikuti?

A6: Emosi terkoneksi, kepercayaan diberikan, selebihnya jalani hari dengan kebersamaan.

Q7: Adakah titik kritis dalam life skills ini?

A7: Setiap fase ada momen krisis and momen keemasan. Kalau titik kritis, lihat respons anak. Saat setiap kali do something dia reaktif atau mundur, cek lagi 3 pengaruh utama sehingga anak butuh waktu untuk beradaptasi: pengasuhan ortu adakah yang berubah, lingkungan tempat bertumbuh (bisa sekolah/komunitas) yang sedang berubah, atau secara internal dirinya sedang ada perubahan (usia, hormonal, mental).

Teruslah bertumbuh. Kesalahan itu ada untuk diperbaiki. Lakukan koreksi dan improvement terus menerus, jangan baper terhadap kesalahan.

Q8: Apakah maksudnya momen itu kejadiannya dan momen keemasan itu rentang usianya?

A8: Iya, setiap fase usia pasti mengalami momen krisis dan keemasan. Begitulah fitrah manusia, seperti iman naik turun. Yang terpenting respons kita sebagai fasilitator, memastikan anak never walk alone, dan harapan life skills dipenuhi dengan keinginan dan kesadaran diri anak-anak sudah ada jalannya. Mainkan saja peran terbaik kita sebagai fasilitatornya.

Penyunting:

Danica F.A

brighterthananystars.wordpress.com

IG: asahoshisama

Member Bumi Kabungah 5 dan RB Literasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *