[Sayembara Ibu] NON FIKSI – Bunda Di Era Revolusi Industri 4.0

Author : Ambuhasanayn

Seiring dengan perkembangan zaman dan arus teknologi yang terus bergulir, setiap perpindahan dari satu masa ke masa berikutnya menuntut perubahan (transformasi) yang cukup signifikan. Dimulai sejak abad ke-17, penemuan mesin uap yang lebih efisien oleh James Watt mengantarkan dunia kepada era Revolusi Industri 0.1. Kemudian setelah berjalan sekian lama, penemuan tenaga listrik yang jauh lebih murah dibandingkan tenaga uap membawa kita memasuki era Revolusi Industri 2.0. Perubahan belum berhenti di sini. Tenaga listrik yang memicu mesin yang bergerak dan berpikir secara otomatis, seperti komputer dan robot, kembali menggiring kita terjun ke dalam era Revolusi Industri 3.0. Dan kini, munculnya mesin komputer yang tersambung ke jaringan raksasa dunia, terciptanya robot pintar, serta kendaraan tanpa awak (drone), sebagai awal masuknya era Revolusi Industri 0.4, era milenium baru dimana kita tengah berada didalamnya.

Era Revolusi Industri 4.0 juga menjamah ranah pendidikan, “memaksa” untuk turut serta bergerak mengikuti selaras perkembangannya. Tantangan baru untuk orangtua, kita dituntut untuk menjadikan anak sebagai generasi yang kompetitif, yang dapat berpikir kritis, kreatif dan inovatif, terampil dalam berkomunikasi, serta mampu berkolaborasi dengan kepercayaan diri yang tinggi. Tidak hanya itu, pendidikan di era ini lebih menekankan kepada pembentukan karakter, yang dalam prespektif Islam diantaranya shidiq, amanah, tabligh dan fathonah. Era Revolusi Industri 4.0 juga memperluas ruang kompetensi literasinya. Kita tidak hanya cukup dengan memahami literasi lama (membaca, menulis dan matematika), tetapi perlu juga dengan memahami literasi baru, melalui literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia.

Menyikapi perubahan dan tuntutan di era tersebut, secara tidak langsung, mau tidak mau, siap tidak siap, perlahan namun pasti, menuntut kita, terutama orangtua (dalam hal ini adalah Bunda), untuk dapat beradaptasi lebih cepat agar tidak tergerus arus kemajuan zaman. Sebab perubahan adalah keniscayaan. Bunda sebagai pendidik pertama dan utama di rumah, adalah garda terdepan dalam menghadapi perkembangan zaman tersebut. Terlepas dari amanah apapun yang diemban sang Bunda, apakah ia bekerja di ranah publik, ataupun fokus di ranah domestik, tidak menjadikan lunturnya tugas utama yang melekat pada sang Bunda. Ia adalah Home Educator (pendidik) di rumahnya. 

Lalu pola asuh dan pendidikan di rumah seperti apakah agar senantiasa menumbuhkan kompetensi dan karakter yang diharapkan? Orangtua dalam hal ini Bunda, harus senantiasa belajar dan terus-menerus mendidik dirinya sendiri dahulu sebelum ia mendidik keluarga dan anak-anaknya kelak. Mendidik diri dengan muraqabbatullah melalui bacaan ayat-ayat-Nya, mentafakuri maksud penciptaan Rabbnya, mensucikan diri dan riyadhah (berlatih) agar kembali pada kesadaran fitrah keibuannya sebagaimana mestinya.

Kembalikanlah anak pada fitrahnya juga. Sebab, semenjak ia terlahir, telah terinstal empat fitrah dalam jiwanya. Ia memiliki fitrah keimanan, sebab ia telah bersaksi akan Rabb-nya. Ia juga dikaruniai fitrah belajar, sehingga menjadi pembelajar tangguh dan hebat. Lalu fitrah bakat yang dibawanya pun membuat dirinya unik dan berbeda dari yang lain, serta fitrah seksualitas yang berkembang sesuai tahapan usianya.

Tidak cukup itu. Perkembangan teknologi yang merambat dan menggila telah ada di genggaman, berupa gawai cerdas nan pintar, yang bisa membawa maslahat, tapi bisa berpeluang juga ke arah mudhorot. Oleh sebab itu, perlu bijak dan kontrol dalam menggunakannya. Dan satu hal lagi yang utama adalah membangun budaya literasi sejak dini dalam keluarga dengan memberikan keteladanan, sebab orangtua adalah contoh konkrit terdekat bagi anaknya. Di samping itu, perlu juga anak difasilitasi dengan tersedianya buku bacaan di rumah atau dengan membuat perpustakaan mini. Dengan pembiasaan dan latihan yang berulang, maka akan tercipta suatu kebudayaan.

Jika Anda menyukai tulisan ini, mari bagikan, agar manfaatnya bisa tersebar lebih luas 🙂
fb-share-icon0

Hits: 7

Related posts

Leave a Comment