[Sayembara Ibu] NON FIKSI – Jadi Ibu Masa Kini

Author : Dewi Rifayanti

Jadi ibu masa kini? Rutinitas tinggi yang diselingi dengan cari informasi melalui gawai,
canggih. Sambil sesekali mengunggah kegiatan kita di media sosial. Apakah tantangan
jadi ibu saat ini, seberat saat angkatan ibunya kita dulu? Eh eh… jadi inget deh bisik-
bisik tetangga~~


“Ah kamu masak baru anak satu aja ga bisa beberes rumah..”
“Yakin kamu ngga mau kerja lagi? Bosen nanti di rumah loh..”
“Ih bisaan ya kamu.. punya anak dua ngga pake ART.. emang gak stres ya?”

Ini apa maksudnya? Mau ngasih semangat atau apa nih? Hahaha… Tantangan jadi ibu
kayaknya sama aja dari zaman ke zaman. Kalo jaman dulu informasi dapat dari buku
dan berbagi pengalaman dengan tetangga dan sanak keluarga. Sekarang informasi
udah bisa kita dapatkan dari berbagai sumber selain buku, ada media sosial juga
komunitas wanita yang saling memberdayakan, seperti Ibu Profesional ini. Banyak juga
influencer moms yang sering berbagi di media sosial yang bisa kita jadikan referensi. 

Basically. Sama aja kan? Cuma beda dari proses penerimaan informasinya aja. Dan…
harus pintar-pintar memilih dan menyesuaikan apa yang kita dapatkan dengan situasi
keluarga dan lingkungan kita. Salah langkah, jadi obrolan ibu-ibu deh… hahahaha..
meski memang beda orang beda topik pembicaraan, tapi ga bisa dipungkiri kalau
obrolan ibu-ibu ini, meski saya nggak denger langsung, bikin saya merasa insekyur
(baca: insecure). Apa salahku?

Saya ngga bisa sepenuhnya nyalahin komentar orang tentang apa yang saya percaya
baik dan benar untuk anak-anak saya. Tapi saya juga nggak bisa bilang mereka benar
atas komentar mereka terhadap saya. Netizen maha benar (menurut mereka mah
semua bener, saya yang salah), tetapi Allah Maha Tahu. Ahahahah.. Pernah gak sih
abis berbagi di media sosial lalu dinyinyirin mamak-mamak gitu? Terus kepikiran dan
pusing sendiri? Ngaku deh pasti pernah juga kaaaaan? Or was it just me? Sedih.. tapi
saya merasa salah satu tantangan kita berbagi di media sosial adalah komentar julid
netizen ini. 

Kita nggak bisa milih siapa yang akan komentar di linimasa kita, tapi yang paling pasti,
kita bisa mengontrol pikiran kita. Bersihkan hati kita dan terus jalan maju sesuai dengan
nilai moral dan apa yang kita percaya baik dan benar untuk keluarga kita. After all, we are strong! Saya yakin netizen julid juga merasa insecure atas apa yang masing-masing
kita yakini ini. Kita boleh memilih dan berhak memilih apa yg terbaik bagi kita kan?

Lalu, muncul cerita-cerita tentang Post-Partum Depression (PPD) dan lain sebagainya
setelah segelintir pertanyaan yg membuat hati terpoteque (baca: terpotek). Saya
merasa mungkin orang-orang yang berani bertanya seperti ini pernah merasakan hal
yang sama, hatinya terluka. Tapi nggak tau gimana caranya memutus lingkaran obrolan
semacam ini. 

Bisa kok bisa… ada loh cara memutus rangkaian lingkaran kejulidan ini, hahaha.. AHA!
WEW! Apa sih…

Women Empowering Women dong solusinya.. seperti kita tahu, perempuan itu sehari
banyak banget kan kosakata yang dikeluarkan, baik secara langsung maupun tidak
langsung (dalam hati doang, hahaha….) Dan sebenarnya hal ini bisa banget dijadikan
ladang amal kalau cara penyampaiannya baik, sopan, ramah, dan tentu saja tujuannya
untuk empowering (memberi semangat) pada wanita lain. Coba pola pikir kita diubah,
bagaimana rasanya kalau saya jadi dia? Apakah akan terpoteque? Bayangin kalo satu
lalu jadi sepuluh lalu jadi ribuan, saya yakin deh nggak ada lagi obrolan penuh dosa dan
masalah-masalah perempuan yang stres karena omongan orang lain. Beneran deh.. 

Latihan merasakan perasaan orang lain sebelum kita mulai ngomongin dia atau bicara
langsung sama orang tersebut. Selain itu, banyak berbaik sangka, oh mungkin diaaaa..
sedang banyak kerjaan, atau hal lain, yang baik yang bisa kita pikirkan. 

Berkacalah, kan kita, wanita, suka banget ya liatin kaca. Lihatlah wajah kita saat bicara
dengan diri kita sendiri, apakah raut wajah kita bikin orang merasa nggak nyaman? Apa
kata-kata maupun intonasi kita membuat diri kita sendiri nggak nyaman jika kita yang
dihadapkan dengan diri kita sendiri? Coba deh… pasti asyik ya berkaca, melihat wajah
kita sendiri, dan berbicara pada diri kita sendiri! Lumayan kan sambil mengeluarkan
unek-unek yang dua puluh ribu kosakata ini, plus sambil mengoreksi diri sendiri. 

Happy mother’s day dear Mom Fellas!

Jika Anda menyukai tulisan ini, mari bagikan, agar manfaatnya bisa tersebar lebih luas 🙂
fb-share-icon0

Hits: 24

Related posts

Leave a Comment