[Sayembara Ibu] NON FIKSI – Menjadi Ibu Masa Kini : Ibu Pembelajar Sepanjang Hayat

Author : Wildainish

“Belajar tanpa henti selayaknya jadi misi sejati, bukan tuntutan orang lain tapi kebutuhan memantaskan diri menjadi ibu masa kini.” 

Bismillah. Ijinkan saya bercerita tentang sekilas titik balik. Peran baru yang saya emban tepat saat muncul dua garis merah 2015 silam. Sejak saat itu pula ada rasa cinta yang tak terdefinisi. Rasa rindu, khawatir, dan naluri melindungi sosok mungil yang telah diamanahkan Yang Maha Rahim. Kasih sayang tercurah dari setiap detil pergerakan sang janin. Belum jelas paras dan segalanya, namun ia sanggup menjadi perubahan seorang wanita menjadi ibu seutuhnya. 

Sejak itulah, saya mengenal ilmu baru tentang kehamilan, nutrisi pada bayi, dan tumbuh kembang anak. Ilmu yang tak pernah saya cerap dari kuliah. Tapi selayaknya terus dipelajari agar peran lebih terarah. 

Pasca melahirkan, rupanya Allah memberikan kesempatan bagi saya memahami jiwa manusia pada fase bayi, balita, dan kini beranjak anak-anak. Betapa banyak drama yang dilalui dengan tangis dan perbedaan kepentingan. Acapkali orangtua sebagai kakek-nenek si kecil ingin ikut andil mencurahkan kasih sayang dengan frekuesi berbeda. Ada getir tersendiri saat mengingat masa itu. Antara imunisasi atau tidak. Antara susu formula atau full asi. Sungguh, gejolak emosi teruji pada masanya. Rupanya kita hanya perlu mengambil jalan tengah agar tak menyakiti siapapun, toh setiap anggota keluarga punya cara mencintai yang unik. 

Kata orang menemani buah hati yang beranjak balita, ada istilah bernama terrible two atau teribble three. Masa-masa ibu luar biasa menantang karena si kecil sudah mulai punya kehendak sendiri. Tak mau diatur dan kondisi tantrum mulai muncul. Ternyata semua itu lagi-lagi membuat ibunya belajar tentang manajemen emosi dan tumbuh kembang anak. Ah, drama terulang lagi ketika muncul stuck moment bingung menghadapi rewelnya si kecil. Lucu juga jika mengingat diri yang masih tak mau kalah dengan inner child. Sama-sama menangis alias baper bukan memandu anak. 

Gempuran informasi menimpa dari berbagai penjuru. Ribuan chat atau artikel parenting seringkali membuat kita pening pilih yang mana. Ujungnya kita malah tak menyerap apa-apa, malah terkurung keadaan dan memilih reaktif atas apapun yang terjadi dalam keluarga. 

Hingga suatu ketika, postingan teman tentang matrikulasi menjadi ibu profesional menarik diri berhenti sejenak. Perlahan tapi pasti akhirnya  bergabung sebagai mahasiswi. Mengenal ragam pengalaman, perjuangan, dan wawasan keilmuan untuk keluarga. Kampus kehidupan yang hakiki. Tak butuh transkrip nilai atau ijazah bergelar. Hanya dengan bekal semangat menggebu dan charging diri yang jatuh bangun berperan sebagai ibu dan istri. Jatuh ketika kadang merasa terintimidasi dengan standar keluarga lain. Namun kita bisa bangun dengan inisiatif untuk terus mengasah kemampuan berperan. Betapa banyak zona baru dan ilmu baru yang bisa kita rangkul dalam kesungguhan. 

Jika Anda menyukai tulisan ini, mari bagikan, agar manfaatnya bisa tersebar lebih luas 🙂
fb-share-icon0

Hits: 10

Related posts

Leave a Comment