Tantangan Memulai, Menerapkan, dan Menjalani Life Plan

Author : W. Shresta

    Dalam menjalani Life Plan, tentu tak selalu mulus tanpa hambatan. Layaknya menjalani rute yang telah ditunjukkan oleh GPS, kadang berupa jalan berbatu, menanjak, menukik, atau berkelok tajam. Seperti dilema Mia yang sering bermasalah dengan konsistensi. Sering hopeless untuk membuat Life Plan karena menilai dirinya adalah tipikal spontanious. Sedangkan ia sangat ingin mengajarkan anak-anaknya yang akan memasuki masa akil baligh untuk membuat Life Plan

    Menurut Coach Aji, spontan sebenarnya tidak terkait dengan konsistensi. Spontan itu mungkin kecenderungan proses berpikir (bisa jadi bawaan lahir), namun konsistensi itu seperti otot yang dapat dilatih.

    Cara melatihnya bagaimana? Buat rencana yang sederhana, lalu tepati. Misalnya, mau olahraga teratur. Mulai saja dengan melakukan jumping jack lima kali sebelum mandi pagi. Lakukan setiap hari. Ini akan memperkuat otot konsistensi kita.

Lalu, bagaimana mengajari anak-anak membuat Life Plan? Awali dengan membuat rencana berupa ceklis dulu. Bisa ceklis pekanan atau harian, mana yang mudah.

    Lain lagi dengan Adelia, yang kesulitan mengatur waktu untuk mendalami agama, keluarga, dan karir. Menurut Coach Aji, ketika kita mau menambahkan aktivitas baru, maka kita perlu mengurangi aktivitas lainnya. Misalnya, seseorang punya bisnis dan bisnis tersebut sudah pasti menyita pikiran dan waktu yang ia miliki. Lalu tiba-tiba, seseorang tersebut punya keinginan menulis buku. Apakah ia bisa melakukannya bila tidak mengubah aktivitas lamanya? Tentu tidak bisa. Karena kita punya waktu 24 jam itu penuh dengan aktivitas. Entah aktivitas yang penting atau yang remeh temeh. Lalu, bagaimana supaya punya waktu? Petakan aktivitas, lalu putuskan untuk mengurangi beberapa hal. Karena mengurangi jam kerja di bisnis tidak memungkinkan, maka usahakan mengurangi aktivitas lainnya, misal jam nonton, jam tidur, dan sebagainya. 

Nah, pertanyaannya, berapa jam sebenarnya yang diperlukan untuk menunaikan prioritas terkait agama dan keluarga? Lalu, berapa jam yang kita gunakan untuk karir? Kita perlu petakan dulu. Coach Aji yakin, dengan sedikit kreativitas kita akan menemukan waktu yang kita perlukan untuk menunaikan prioritas kita.

Keluhan senada juga datang dari Retna yang sangat ingin memulai merancang Life Plan, namun terkendala dengan waktu yang terbatas. Menurutnya, butuh waktu yang cukup lama untuk merenung. Tips dari Coach Aji adalah kerjakan satu per satu. Misal hari pertama memetakan peran. Hari kedua menuliskan misi dan visi di setiap peran. Hari ketiga menuliskan kondisi saat ini dan komitmen spesifik. Hari keempat, baru latihan membuat misi hidup.

Pertanyaannya, berapa waktu yang diperlukan untuk setiap hal di atas? Menurut Coach Aji, 30 menit sudah sangat cukup. Nah, tinggal cari waktu 30 menit setiap hari. Kapan waktu terbaik? Disarankan sebelum atau sesudah salat subuh.

Lalu, bagaimana cara agar tetap semangat dan konsisten? Coach Aji memberi contoh dalam hal konsisten berolahraga. Berikut tipsnya :

  1. Tetapkan target yang realistis. Kalau sekiranya olahraga 30 menit masih belum mampu, mulai dengan 5 menit terlebih dulu.
  2. Miliki partner (bisa pasangan, coach, mentor, atau teman di komunitas) yang dapat mendukung kita saat kita kendor.
  3. Jangan mengejar kesempurnaan, kejar 80% terlaksana. Alih-alih sukses olahraga 30 kali atau setiap hari dalam sebulan, kejarlah 80% x 30 = 24 kali dalam sebulan.

Berbeda dengan Ien. Menurutnya, Life Plan sangat erat dengan visi misi penciptaan diri di dunia. Dalam keluarga, pengokohan visi misi keluarga sangatlah penting. Namun tidak semua keluarga yang selesai memahami visi misi tersebut. Maka hal pertama yang disarankan Coach Aji adalah memetakan peran dan diskusi dengan pasangan. Coach Aji juga menyarankan untuk membaca buku-buku dan artikel tentang Life Plan sebagai alternatif latihan.

    Bagaimana, Teh? Sudah makin terbayang ingin memulai 2020 dengan Life Plan seperti apa? Atau langsung action mencicil Life Plan tanpa menunggu pergantian tahun? 

Silakan ambil alat tulis dan luangkan waktu menyiapkan Life Plan terbaik. Kokohkan rencana kehidupan bahagia yang sesuai dengan keinginan. Bersinergi dengan pasangan dan anak-anak menggapai impian.

(Seperti yang disampaikan oleh Coach Darmawan Aji dalam Kulwap RBB Homeschooling Ibu Profesional Bandung pada Kamis, 27 Desember 2018) 

Jika Anda menyukai tulisan ini, mari bagikan, agar manfaatnya bisa tersebar lebih luas 🙂

Hits: 312

Related posts

Leave a Comment